Follow our news chanel

Previous
Next

Aktivis mahasiswa Thailand deklarasi kemenangan rakyat

Unjuk rasa Papua
Ilustrasi demonstrasi. - pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Pemimpin demonstrasi Thailand, Parit “Penguin” Chirawak menyatakan kemenangan dalam unjuk rasa yang diikuti ribuan masyarakat dan mahasiswa di Ibu Kota Bangkok pada Minggu, (20/9/2020). Penguin, begitu nama julukannya, juga meminta masyarakat tidak bekerja pada 14 Oktober mendatang.

“Dia mengatakan kepada massa untuk ikut menggelar demonstrasi pada Kamis di depan gedung parlemen,” tulis Reuters Minggu, (20/9/2020).

Baca juga : Demonstran anti-rasisme bentrok dengan milisi kulit putih 

Rusuh, demonstran anti-rasisme Portland Amerika gunakan bom api 

Puluhan ribu demonstran menuntut presiden Belarus mundur

Dia adalah salah satu pemimpin dari United Front of Thammasat and Demonstration. Bersama para aktivis lainnya, dia menggalang aksi demonstrasi selama dua hari di Lapangan Sanam Luang, yang terletak di seberang Istana Kerajaan Thailand.

Loading...
;

Penguin menyampaikan desakan publik agar Perdana Menteri, Prayut Chan-o-cha, dan kabinetnya mengundurkan diri. Dia juga meminta pejabat Komisi Pemilihan Umum, dan Mahkamah Konstitusi untuk mundur.

Grup ini juga menuntut perubahan Konstitusi, yang dianggap menguntungkan militer. Para demonstran juga meminta reformasi monarki dan pengurangan kekuasaan raja, yang dianggap dominan.

Penguin meyakini Jenderal Prayut terisolasi secara politik dan pemerintah tidak akan bertahan lama hingga bulan depan. Soal desakan mahasiswa ini, Prayuth pernah mengatakan siap berdialog dan menyelesaikan perbedaan pandangan.

“Jika Prayut menolak berhenti, maka akan lebih banyak masyarakat bergabung dalam protes ini,” begitu dilansir Bangkok Post, yang memprediksi sekitar 40 hingga 50 ribu demonstran hadir di lokasi mendesak pemerintah mundur.

Penguin adalah mahasiswa di Thammasat University dan sempat ditangkap petugas pada Agustus saat menuju lokasi demonstrasi.

Setelah dibebaskan pada bulan yang sama, Penguin menyatakan akan terus berdemonstrasi melawan pemerintah dan mendesak reformasi kerajaan. Polisi menangkapnya atas tuduhan melakukan penghasutan kepada massa melawan pemerintah dan kerajaan.

Selain menangkap polisi, Human Rights Watch mengatakan polisi juga memiliki daftar 31 aktivis dan tokoh yang akan ditangkap dengan tuduhan serupa.

“Setiap penangkapan baru terhadap aktivis pro-demokrasi damai menunjukkan pemerintahan otoriter Thailand bertendensi dan tidak menghormati Hak Asasi Manusia,” kata Brad Adams dilansir situs HRW.

Selain Penguin, situs HRW menyebut polisi Thailand juga mengincar sejumlah aktivis mahasiswa lainnya yang tergabung dalam Gerakan Muda Bebas atau Free Youth Movement. Mereka adalah

Arnon Nampha dan Panupong Jadnok, yang juga terkena tuduhan sama. Para aktivis ini terlibat dalam demonstrasi besar mahasiswa “Free Youth” pada 18 Juli 2020 di Ibu Kota Bangkok.

Tuduhan penghasutan publik, yang digunakan polisi, memiliki konsekuensi hukum hukuman penjara maksimal tujuh tahun.

Para aktivis Free Youth Movement kerap menggelar protes damai di depan Monumen Demokrasi di Bangkok sejak terjadinya kudeta militer pada pertengahan 2014. Para aktivis ini mendesak pembubaran parlemen, pembentukan Konstitusi baru dan berakhirnya tindakan gangguan aparat terhadap warga yang menggunakan hak kebebasan berbicara. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top