Follow our news chanel

Previous
Next

Pengamat sebut kasus Novel Baswedan hilangkan kewibawaan hukum

Papua
Ilustrasi, pixabay.com

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jakarta, Jubi – Direktur Legal Culture Institute, M. Rizqi Azmi, mengatakan kewibawaan hukum hilang dalam vonis kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan. Proses penanganan kasus itu di pengadilan menunjukkan banyak kejanggalan.

“Karena jaksa sudah memberikan frame dalam logika hukum publik bahwasanya actus reus (kejadian tindak pidana) dan mens rea (sikap kebatinan) dalam kejadian ini bukan hal yang luar biasa,” kata Rizqi, Jumat, (17/7/2020).

Baca juga : Nasib Novel Baswedan dan 7 tapol Papua anti rasisme sama

Tuntutan ringan penyerang Novel, Ini kata tim advokasi korban

Novel protes pelaksanaan waktu rekonstruksi

Meski hakim memberi vonis di atas tuntutan jaksa, yakni 2 tahun untuk Rahmat Kadir Mahulette dan 1 tahun 6 bulan bagi Ronny Bugis, namun Rizki menilai tidak ada yang luar biasa. “Karena melihat konstruksi vonis tetap berpatokan kepada pasal 353 ayat 2 juncto pasal 55 ayat 1 sesuai arah mata angin tuntutan,” ujar Rizqi mejelaskan.

Loading...
;

Kejanggalan ketiga, menurut Rizqi, tidak ada pemaknaan ultra petita dalam putusan hakim karena vonis 2 tahun masih di bawah hukuman yang dijatuhkan pasal 353 ayat 2, yaitu maksimal 7 tahun. Hakim dianggap tidak berani memutuskan dengan dakwaan primer pasal 355 ayat 1 yaitu Penganiayaan berat yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu dengan ancaman pidana penjara paling lama dua belas tahun. “Inilah kelemahan dan basa basi seakan-akan meredam tuntutan publik dan kebutuhan terpidana,” ujar Rizqi menjelaskan.

Menurut dia, sebagai bahan eksaminasi hukum, hakim sejatinya percaya bahwa kasus ini adalah kasus yang berat dan perlu pendalaman seperti kasus Munir dan Marsinah. Namun dalam putusannya hakim tidak mengambil delik penganiayaan berat dengan perencanaan.

Selain itu, Rizqi menilai hakim terbebani untuk memutuskan secara adil dan menggunakan ultra petita. Ia menduga ada banyak tekanan di luar meja hijau yang menjadi pertimbangan para hakim di kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

“Fiat Justitia Ruat Caelum (tegakan keadilan meski langit akan runtuh) seharusnya adagium inilah yang harus di pertahankan hakim sehingga kemandirian hakim bisa teruji lepas dari segala campur tangan dan kepentingan kekuasaan,” katanya.

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top